Teori Sistem dan Teori Negara
A. Pendahuluan
Upaya oleh para ahli politik sejak zaman klasik yaitu dalam istilah monarki, aristokrasi, dan demokrasi serta para pemikir modern, seperti F.X. Sutton yang menjelaskan fenomena masyarakat dalam perspektif sistem, sekalipun tidak secara khusus menjelaskan "teori sistem" sebagaimana dilakukan oleh David Easton.
Pengertian sistem politik menurut David Easton masih memegang posisi kunci dalam studi politik negara. Sementara itu, pengertian struktural fungsional dari Gabriel Almond mempertajam konsep David Easton. Sistem adalah kesatuan seperangkat struktur yang memiliki fungsi masing-masing untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem politik adalah kesatuan (kolektivitas) seperangkat struktur politik yang memiliki fungsi masing-masing untuk mencapai tujuan suatu negara. Pendekatan sistem politik diajukan untuk memberi penjelasan yang bersifat ilmiah terhadap fenomena politik. Dalam pendekatan sistem politik, masyarakat adalah konsep induk karena sistem politik hanya merupakan salah satu dari struktur yang membangun masyarakat, seperti sistem ekonomi, sistem sosial dan budaya, sistem kepercayaan,dan sebagainya. Sistem politik merupakan abstraksi (realitas yang diangkat ke alam konsep) seputar pendistribusian nilai ditengah masyarakat.
Untuk memahami sistem politik Indonesia,ada beberapa variabel kunci yaitu struktur, fungsi, aktor, nilai, norma, tujuan, input, output, respons dan umpan balik.
Menurut Easton, sistem politik dipandang sebagai -organisme hidup yang mencukupi kebutuhan hidupnya, mengalami input, proses, output dan dikembalikan sebagai feedback pada struktur input.
Anilisi sistem politik didalam Theories of Comparative Politics: The Search for a Paradigm menurut buku Ronald H. Chilcote, menggunakan bangunan teori Easton sebagai kerangka makro dan Almond sebagai kerangka mikro. Keduanya digunakan secara komplementatif.
B. Kerangka Sistem Umum: David Easton
Easton mendefinisikan politik sebagai proses alokasi nilai dalam masyarakat secara otoritatif. Dari definisi Easton, Michael Saward menyatakan berbagai konsekuensi logis berikut:
- Bagi Easton, hanya ada satu otoritas
- Peran dalam mekanisme output bersifat ekslusif
- Easton menekankan pada keputusan yang mengikat dari pemerintah
- Easton sangat menekankan negara untuk selalu beroperasi secara sah.
- Ilmu pengetahuan merupakan konstruksi untuk menyistematisasikan fakta-fakta yang ditemukan.
- Riset sistem politik terdiri atas dua jenis data, yaitu data psikologis dan data situasional.
- Fakta cenderung tumpang-tindih tanpa adanya indentifikasi.
- Dalam konteks bangunan keilmuan, menghendaki adanya teori umum yang mampu mengakomodasi bervariasinya lembaga, fungsi dan karakteristik sistem politik untuk merangkum keseluruhannya dalam satu penjelasan umum.
- Unit-unit yang membentuk sistem dan luasnya batas-batas pengaruh sistem itu.
- Input dan output dari sistem yang tercermin dalam keputusan-keputusan (input) didalam sistem tersebut.
- Jenis dan tingkat diferensiasi dalam sistem tersebut
- Tingkat integrasi sistem politik yang mencerminkan tingkat efesiensinya.
- Kondisi pergaulan masyarakat dunia
- Sistem ekologi internasional
- Sistem politik internasional
Terdapat dalam tiga fase yang membentuk pemikirannya. Pertama, fase ketika Almond mengemukakan pandangannya dengan tetap berpegang pada pemahaman sistem politik dari Easton. Almond mengedepankan ciri-ciri sistem politik yang berlaku secara universal. Fase terakhirnya merupakan penyempurnaan dari pendekatan fungsional, yang kemudian menghasilkan penjelasan tentang fungsi-fungsi politik yang terkait dengan pembentukan input seperti artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan,komunikasi,sosialisasi dan rekrutmen politik. Fungsi output adalah pembuatan, penerapan, dan penghakiman kebijakan. Almond juga membahas tiga tipe fungsi. Pertama fungsi memberikan identitas bagi sistem, kedua terkait dengan efektivitas suatu sistem dalam menanggapi desakan-desakan dari lingkungannya, ketiga terkait dengan pemeliharaan sistem.
D. Kritik terhadap Pandangan Easton dan Almond
1. Kritik terhadap Pemikiran David Easton
Chilcote mengedepankan beberapa pemikir yang kritis terhadap karya Easton, yaitu:
- Thomas London Thorson, mengatakan bahwa teori Easton tidak mampu menjelaskan perubahan politik.
- Eugene F. Miller, berpendapat bahwa abstraksi Easton menyebabkan kekeliruan persepsi tentang situasi masyarakat yang sebenarnya
- William C. Michaell(1961) menyebutkan bahwa gagasan tentang alokasi nilai otoritatif dianggap menyesatkan dan tidak memadai.
- Mochtat Mas'oed melihat teori Easton tidak dapat menghasilkan proposisi teoretis yang menjalankan hubungan fenomena dalam kerangka sebab-akibat.
2. Kritik terhadap Pemikiran Gabriel A. Almond
Pendekatan Almond meskipun bersifat interdisiplin, masih sering dianggap deterministik karena penekanan pada input sebagai energi dari berprosesnya sistem politik.
E. Sistem sebagai Negara
Marx menyatakan bahwa di Yunani kuno, negara dan komunitas dipadukan menjadi polis; terdapat rasa kesatuan antara masyarakat dan negara, antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik.
Perkembangan labih lanjut dari studi tentang negara memunculkan beberapa perspektif dari Esping-Andersen, Friedland, dan Wright(1976) yaitu:
Perkembangan labih lanjut dari studi tentang negara memunculkan beberapa perspektif dari Esping-Andersen, Friedland, dan Wright(1976) yaitu:
- Perspektif Pluralis
- Perspektif Hegel-Marxis
- Perspektif Instrumentalis
- Perspektif Strukturalis
Komentar
Posting Komentar