Partisipasi Politik

Pemaknaan partisipasi Politik
Menurut Huntington dan Joan Nelson, partisipasi politik adalah sikap politik yang mencakup segala kegiatan atau aktivitas untuk memengaruhi pejabat pemerintah dalam pengambilan keputusan pemerintah.  Dan partisipasi politik memiliki sifat spektrum. Menurut mereka, ada dua jenis partisipasi otonom dan partisipasi mobilisasi. Partisipasi otonom adalah jenis partisipasi yamg diharapkan oleh masyarakat dalam memberikan mangenai ide. Adapun partisipasi mobilisasi adalah mengedepankan dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan program, baik politik, ekonomi maupun sosial.
Sebuah variabel nilai, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk atau sikap, diantaranya:
a)  kegiatan: pemilihan umum
b) lobbying: upaya perseorangan menghubungi pejabat dengan maksud memengaruhi keputusan
c) kegiatan organisasi: anggota dalam organisasi yang tujuannya memengaruhi pengambilan keputusan pemerintah.
d) mencari koneksi: tindakan perseorangan yang ditujukan terhadap pejabat pemerintah tujuannya memperoleh manfaat bagi segelintir orang.
e) tindakan seseorang: visa mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah dengan cara menimbulkan kerugian fisik.
Terdapat piramida yang dibagi menjadi empat kategori. Bagiam bawah adalah Apolitik (kegiatan masyarakat yang menaati), atasnya adalah kelompok pengamat (mengorientasikan dirinya kehadiran dalam rapat-rapat umum). Satu tingkat diatasnya adalah partisipan (orangorang yang bertugas melakukan kampanye), dan piramida yang tertinggi adalah Aktivis (pemimpin partai)
Menurut Barber, partisipasi bisa dilihat dari tingkat intensitasnya. Maksudnya, intensitas partisipasi individu tergolong dalam dua kategori besar. Yaitu partisipasi intensif (kegiatan individu dalam partai politik), dan partisipasi yang tidak intensif (berkaitan dengan pemilihan umum)
Bentuk kegiatan, menurut Milbrath dan Goel dibaji menjadi empat kategori, yaitu:
1) apatis, orang tidak berpartisipasi
2) spectator, orang yang pernah ikut memilih dalak pemilihan umum
3) gladiator, orang yang secara aktif terlibat dalam proses politik.
4) pengkritik, mengetahui partisipasi nonkonvensional berupa pengajuan partisipasi
Partisipasi terkontrol hanya akan menyebabkan kritis partisipasi politik sehingga yang terjadi adalah irasionalnya perilaku politik masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Elite Politik

Teori Kekuasaan

Teori Sistem dan Teori Negara