Teori Budaya Politik Dan Sosiolisasi Politik
A. Teori Budaya Politik dan Sosialisasi Politik
Teori ini untuk menjelaskan orientasi budaya individu atau kelompok berkaitan dengan proses sosialisasinya. Almond menjelaskan berbagai pola orientasi politik yang dikaitkan dengan tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik warga masyarakat yang diidentifikasi dalam tiga pola yaitu partisipan, subjek dan parokial. Budaya partisipan adalah warga masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan politik dan tingkat partisipasi politik yang tinggi, serta senantiasa terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan politik atau mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik.
Dalam pendekatan budaya politik, individu merupakan subjek kajian yang utama dan bersifat empiris. Sementara sosialisasi politik merupakan instrumen yang berupaya melestarikan sebuah sistem politik melalui serangkaian mekanisme dalam sosialisasi politik, untuk memahami definisi sistem politik yang berlangsung dalam suatu negara.
B. Budaya Politik
Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan beragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada didalam sistem. Simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki. Pengertian budaya politik, sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoretis.
Orientasi/kecenderungan individu terhadap sistem politik terbagi.
Menurut Almond dan Verba terdapat tiga budaya politik yang ditengah individu. Sebagai berikut:
Michael Rush dan Philip Althoff yang memperkenalkan teori sosialisasi politik yang didalamnya menganalisis perilaku politik tingkat individu. Sistem politik dapat berupa input politik, output politik ataupun orang-orang yang menjalankan pemerintahan. Fungsi sosialisasi:
Rush dan Althof menggariskan lima agen sosialisasi politik, sebagai berikut:
Teori ini untuk menjelaskan orientasi budaya individu atau kelompok berkaitan dengan proses sosialisasinya. Almond menjelaskan berbagai pola orientasi politik yang dikaitkan dengan tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik warga masyarakat yang diidentifikasi dalam tiga pola yaitu partisipan, subjek dan parokial. Budaya partisipan adalah warga masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan politik dan tingkat partisipasi politik yang tinggi, serta senantiasa terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan politik atau mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik.
Dalam pendekatan budaya politik, individu merupakan subjek kajian yang utama dan bersifat empiris. Sementara sosialisasi politik merupakan instrumen yang berupaya melestarikan sebuah sistem politik melalui serangkaian mekanisme dalam sosialisasi politik, untuk memahami definisi sistem politik yang berlangsung dalam suatu negara.
B. Budaya Politik
Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan beragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada didalam sistem. Simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki. Pengertian budaya politik, sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoretis.
- Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, takhayul dan mitos. Budaya politik memberikan alasan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.
- Budaya politik dilihat dari aspek doktrin yang menyangkut masaah nilai-nilai adalah prinsip dasar yang melandasi pandangan hidup yang berhubungan dengan masalah tujuan
- Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma yaitu sikap teebuka dan tertutup. Tingkat militansi dalam pergaulan masyarakat, pola kepemimpinan (konfirmitas atau mendorong inisiatif kebebasan), mobilitas (status quo), dan prioritas kebijakan (menekankan ekonomi atau politik).
Orientasi/kecenderungan individu terhadap sistem politik terbagi.
- Orientasi kognitif : Pengetahuan atas mekanisme yang mengetahui hak dan kewajiban warga negara dan mengetahui tata cara pemilihan umum
- Input dan afektif : Sistem politik yang bergerak didalam konteks perasaan dimana tujuan akhirnya masyarakat merasa diperhatikan oleh pimpinan politik dan akan memilih ara pemberi bantuan ada kemudian hari.
- Orientasi evaluatif : Perasan individu terhadap objek politik yang bercampur antara kognitif dan efektif dalam bentuk keputusan atau tindakan. Orientasi ini mumcul akibat adanya pengaruh dari kognitif dan afektif.
Menurut Almond dan Verba terdapat tiga budaya politik yang ditengah individu. Sebagai berikut:
- Budaya Politik Parokial : Merupakan tipe budaya politik yang ikatan seorang individu teehadap sistem politik tidak begitu kuat, baik secara kognitif maupun afektif. Karena merasa bahwa mereka bagian dari sebuah bangsa secara keseluhuan
- Budaya Politik Subjek : Indivu yang berbudaya politik subjek memberi perhatian yang cukup terhadap politik tetapi sifatnya pasif. Budaya politik subjek banyak berlangsung dinegara-negara yang kuat (strong government), tetapi bercorak otoritarian atau totaliatarian.
- Budaya Politik Pastisipan Dalam budaya ini individu mengerti bahwa mereka adalah warga yang mempunyai hak dan kewajiban, misalnya hak untuk menyatakan pendapat.
Michael Rush dan Philip Althoff yang memperkenalkan teori sosialisasi politik yang didalamnya menganalisis perilaku politik tingkat individu. Sistem politik dapat berupa input politik, output politik ataupun orang-orang yang menjalankan pemerintahan. Fungsi sosialisasi:
- Melatih individu
- Memelihara sistem politik
- Imitasi, seorang individu meniru tingkah laku individu lain.
- Intruksi, banyak berkembang dilingkungan militer melalui rantai komando.
- Motivasi, individu langsung belajar dari pengalaman, membandingkan perndapat dan tingkah sendiri dengan tingkah lain.
Rush dan Althof menggariskan lima agen sosialisasi politik, sebagai berikut:
- Keluarga, merupakan primary group utama yang membentuk karakter politik individu.
- Sekolah, merupakan secondary gorup
- Teman sebaya, merupakan peer gorup yang tentu sangat memengaruhi tindakan seorang individu.
- Media Massa, merupakan agen sosialisasi politik secondary group.
Komentar
Posting Komentar